Journey To Switzerland Part 2 : Visa Application


Setelah pada akhirnya berhasil mendapatkan konfirmasi bahwa tanggal keberangkatan bisa diundur, dan aku diminta oleh orang tua ku untuk ikut pergi juga menemani adikku yang tadinya akan berangkat sendirian (tentu saja keberangkatanku dibiayai oleh orang tua ku, sementara hotel bersama dengan adikku) maka dimulailah proses apply visa untuk ke Swiss.

Karena pihak Logitech menyerahkan seluruh urusan keberangkatan kepada salah satu travel agency maka aku berkoordinasi langsung dengan pihak Travel tersebut untuk mengurus dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk apply visa keberangkatanku dan adikku. Dan dokumen yang dibutuhkan tersebut pada awalnya berupa :
1. Paspor yang masa berlaku lebih dari 6 bulan dari tanggal kedatangan dan paspor lama.
2. Pas foto berwarna terbaru ukuran 3,5 x 4,5 = 2 lembar, dengan latar belakang putih, dan hasil cetakan diatas kertas cetak foto, bermutu cetak baik dan jelas penampilannya muka di zoom 80%
3. Surat sponsor berbahasa Inggris di atas kop surat perusahaan dimana yang bersangkutan bekerja. Jika ada orang lain/anggota keluarga yang ikut bepergian maka dicantumkan nama dan status orang tersebut.
4. Bukti keuangan 3 bulan terakhir berupa fotokopi Rekening koran atau Buku tabungan (dari halaman depan yang tercantum nama dan nomor rekening sampai dengan halaman terakhir transaksi).minimal Rp. 50 Juta/orang.
5. Fotokopi Kartu keluarga.
6. Jika anak ikut bepergian dan masih sekolah, maka lampirkan :
• Fotokopi Kartu pelajar/surat keterangan dari sekolah
• Fotokopi Akte kelahiran
7. Print out reservasi tiket.
8. Konfirmasi hotel selama perjalanan di Eropa.
9. Asuransi perjalanan yang berlaku selama masa tinggal di Eropa dan Uang Pertanggungan USD 50.000 atau EURO 30.000.
10. Formulir yang telah diisi lengkap dan ditanda tangani oleh pemohon. Untuk anak yang belum mempunyai KTP, formulir ditanda tangani oleh kedua orang tuanya.
11. Yang bersangkutan TENTATIVE untuk datang menghadap

Karena pihak Logitech sudah melakukan issued tiket untuk adikku maka aku segera buru-buru melakukan pemesanan tiket karena takut tidak berangkat bersamaan, setelah membayar tiket aku juga melakukan pembayaran apply visa. Satu hal yang aku pelajari dari pengalaman ini adalah jangan pernah melakukan issued tiket sebelum visa sudah dipastikan keluar karena pengalaman yang akan aku ceritakan di bawah ini.

Dikarenakan beberapa dokumen ada di rumah di Bandar Lampung maka aku membutuhkan beberapa hari untuk melengkapinya, ketika sudah berhasil aku lengkapi semua dan ingin segera aku submit tiba-tiba dari pihak travel meminta lagi beberapa dokumen tambahan seperti SIUP tempat perusahaan dimana aku bekerja, surat keterangan dari bank, fotokopi KTP dll. Dan hal ini terjadi beberapa kali, hal yang sangat aku sesalkan karena membuat aku membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk menyiapkan dokumen tambahan tersebut, seharusnya mereka bisa saja memberi tahu seluruhnya sejak awal sehingga tidak merepotkan aku untuk bolak-balik melengkapi dokumen tambahan tersebut.

Karena proses pembuatan visa membutuhkan waktu 14 hari kerja dan ketidakjelasan informasi ini membuatku sangat was-was apabila ternyata ketika tanggal keberangkatan tiba namun visa belum keluar. Aku sempat melakukan komplain kepada pihak travel tersebut dan secara pribadi aku sangat tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh mereka. Setelah berhasil memberikan seluruh dokumen yang diminta setelah 4 kali bolak balik, dokumen sudah siap untuk dimasukan ke kedutaan Swiss, namun tiba-tiba (lagi) pihak travel menginformasikan bahwa mereka membutuhkan semacam surat sponsor dari perusahaan yang membiayai adikku tersebut, karena passport kami masih kosong dan apabila tiba-tiba ingin berangkat ke Swiss tanpa alasan yang kuat takut akan langsung ditolak oleh pihak kedutaan. Lagi-lagi hal yang sangat aku sayangkan mereka tidak menginformasikan hal tersebut sejak awal.

Setelah pihak travel berhasil mendapatkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dari perushaan tersebut maka mereka menginformasikan bahwa dokumen sudah dimasukan ke kedutaan dan tinggal menunggu informasi dari kedutaan lebih lanjut.

Journey To Switzerland Part 1 : The Moment It All Begins



Semua bermula saat kami mengunjungi acara Indocomtech di JCC, setelah aku membeli sebuah handphone baru kemudian adikku yang berencana untuk membeli sebuah speaker baru untuk melengkapi PS3nya di kamar kost mendatangi sebuah stand Logitech. Aku memang sempat menyarankan apabila menginginkan speaker yang bagus, Logitech adalah salah satunya. Terlebih lagi melihat Z906 sebagai penerus Z5500 yang terkenal itu sedang dipamerkan, akhirnya terjadilah sebuah transaksi jual beli di salah satu stand speaker asal Swiss tersebut.

Setelah transaksi selesai, salah satu karyawannya mengatakan sedang ada undian dengan hadiah utama 'Trip to Swiss' tentu saja yang terlintas pertama dalam pikiranku adalah "MUSTAHIL" jadi aku menanyakan apa sih hadiah paling kecil dari undian tersebut dan saat penjaga undian tersebut mengatakan ada pena dan kaos, aku sudah berpikir " oh at least akan mendapatkan sesuatu" dan ketika sebuah sedotan kecil yang berisi segulung kertas ditarik oleh adikku, salah satu penjaga stand tersebut membantu mengeluarkan kertas tersebut dan kami membukanya perlahan-lahan untuk melihat kata-kata yang tertulis dalam kertas tersebut. "Ticket to Swiss" aku sambil membacanya dan membuat semua karyawan yang ada di dekat situ terlonjak kaget seakan-akan tidak percaya, sambil kami menyerahkan kertas tersebut untuk mereka baca sendiri.

Setelah itu semua seakan terjadi begitu cepat, demi terjadinya proses dokumentasi, adikku diminta untuk melakukan ulang proses pengambilan undian tersebut sambil disorot oleh sebuah handycam hanya demi seakan-akan adikku menarik undian tersebut. Foto-foto dimulai, dan diserahkannya sebuah papan semacam simbol bahwa telah ditemukan pemenang untuk hadiah utama tersebut, kemudian dilakukan wawancara singkat mengenai produk Logitech.

Permasalahan pertama dimulai, tanggal keberangkatan adalah tanggal 6 Desember dimana tanggal yang sangat berdekatan sekali dengan tanggal Indocomtech tersebut ditambah lagi belum proses pengajuan Visa yang sudah diketahui secara umum bahwa proses tersebut adalah yang paling sulit dan paling memakan waktu lama.

Permasalahan kedua adalah ternyata pada tanggal tersebut adikku sedang ada UAS dari universitasnya sehingga kami meminta agar tanggal keberangkatan diundur setidaknya di minggu ke depannya, untunglah pihak Logitech mau mencoba membantu menanyakan pada pihak Travel tempat mereka menyerahkan urusan ini dan akan segera mengabari kami secepatnya.

Setelah saling bertukar nomor contact masing-masing, maka kami pun pulang dengan harap-harap cemas menunggu keesokan harinya untuk kabar apakah keberangkatan tersebut bisa diundur atau tidak

SIC Kiwami Blade Jack


OPEN PREORDER - SIC KIWAMI BLADE JACK Rp 140.000






OPEN PREORDER - SIC KIWAMI BLADE JACK Rp 140.000
CONTACT - 08197985522

SIC Kiwami Agito Ground Form




OPEN PREORDER SIC KIWAMI KAMEN RIDER AGITO ~ Rp 130.000
Contact : 08197985522
Slot terbatas

Quote : The Cashflow Quadrant


Ingin mengutip beberapa kutipan yang ada dari buku yang baru selesai kubaca (setelah sekian tahun tidak membaca buku lagi) yaitu The Cashflow Quadrant karya Robert T. Kiyosaki.

"Uang penting, tapi hidup lebih penting, oleh karena itu saya tidak mau menghabiskan hidup saya dengan bekerja mencari uang"

"Kecerdasan finansial bukan terutama tentang berapa banyak uang yang kauhasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang kausimpan, seberapa keras uang itu bekerja untukmu dan berapa banyak generasi yang bisa kauhidupi dengan uang itu"

"Sukses adalah guru yang jelek. Kita belajar paling banyak tentang diri kita ketika gagal... jadi, jangan takut gagal. Gagal adalah bagian dari proses menjadi sukses. Kau tidak bisa sukses tanpa mengalami kegagalan. Jadi, orang yang tidak berhasil adalah orang yang tak pernah gagal"

"Kalau kau menanggung utang dan risiko, maka kau harus dibayar"

"Kau bisa setiap saat berhenti.. jadi, kenapa berhenti sekarang?"

"Kalau kau berutang secara pribadi, pastikan jumlahnya kecil. Kalau kau berutang besar, pastikan orang lain yang membayarnya"

"Tugas bos anda adalah memberi anda pekerjaan. Tugas andalah untuk membuat diri anda sendiri kaya"

TV Series VS Box Office


Sudah lama ingin menulis tentang ini. Tentang perbandingan film seri vs film bioskop. Mungkin bagi setiap orang memiliki alasan sendiri mengapa mereka menyukai film seri dan mengapa mereka menyukai film bioskop. Well aku akan mencoba menuliskan alasanku sendiri disini.

Ketika kita menonton sebuah film di bioskop, pernahkah anda merasa film itu begitu membosankan dan ingin cepat - cepat keluar dari sana? Atau mungkin sebaliknya, anda merasa film itu sangat menarik dan sangat kecewa ketika film tersebut akhirnya selesai. Karena dengan begitu, berakhir pula lah dunia serta karakter dan kehidupan dalam film tersebut. Anda mengharapkan film tersebut akan dibuat sekuelnya dan meskipun ternyata memang dibuat sekuelnya, anda masih harus menunggu beberapa tahun lagi, dimana mungkin sudah hadir film - film lain yang mengisi otak anda.

Well setidaknya itulah yang aku alami, ketika aku menyaksikan film yang sangat menarik bagiku, aku merasa sedikit sedih dan kecewa ketika film tersebut selesai. Dan pada saat itulah aku mulai tertarik untuk menonton film seri. Karena dalam film seri, kita akan tetap bisa melihat karakter - karakter kesukaan kita, dunia serta kehidupan mereka secara terus menerus. Cerita bisa lebih dieksplor serta emosi yang dibangun antara si karakter dengan penonton pun bisa lebih dalam.

Untuk film bioskop, well daya tariknya tentu saja dibintangi oleh aktor-aktor terkenal serta sutrdara yang juga terkenal, tayang di layar lebar dengan durasi yang jauh lebih panjang dibandingkan 1 episode tv series, budget yang lebih besar sehingga kualitas cerita dan lain-lainnya lebih baik. Dan hanya untuk sekali nonton bisa menikmati keseluruhan cerita sampai habis.

Well mungkin perbandingannya adalah seperti ini, jika film bioskop adalah kepuasan sesaat, maka film seri adalah kepuasan terus menerus.

Apakah alasanmu menonton sebuah TV Series?

Resign


Well tidak ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ku saat ini, aku masih belum men-set target untuk diriku sendiri, mungkin karena aku masih stuck dalam pekerjaan ku yang membuatku tidak memiliki waktu cukup banyak seperti dulu lagi.

Ngomong - ngomong soal pekerjaan, semenjak aku masuk kerja sekitar 5 bulan yang lalu, sudah cukup banyak orang - orang yang keluar dari tempatku ini. Aku menghitung ada sekitar 10-11 orang. Dari sejumlah orang yang keluar itu, coba tebak berapa orang baru yang masuk? hanya 2 orang, dan itu pun menempati posisi yang berbeda dari orang - orang yang keluar itu.

Aku sering berpikir, apakah para bos-bos itu tidak pernah mengevaluasi mengapa hal itu terjadi. Apa sih yang mereka pikirkan sehingga mereka terlihat tidak terlalu peduli dengan isu semacam ini. Well, that's me again, always like to know how other people think. Yah memang sih sejak dulu pekerjaan programmer adalah pekerjaan yang paling sering lowong. Tapi jika itu terjadi pada usaha kita sendiri, seharusnya kita berusaha untuk mengatasinya. Well aku tidak mencoba menjudge, hanya saja menurutku, ketika satu orang resign, itu akan menimbulkan efek, meskipun mungkin tidak sedikit, pada karyawan - karyawan lainnya. Terlebih lagi jika banyak orang yang resign.

Aku pernah menonton suatu film, dan mereka punya istilah untuk itu dan aku lupa namanya. Ketika banyak orang melakukan hal yang sama, maka orang - orang disekitarnya cenderung untuk mengikuti atau terpengaruh. Jika aku tidak salah ingat namanya mengandung unsur 'Mirror'

Well that what's been going on around my life.