Sunday, May 14, 2017




"Democracy is so overrated.” ~ Frank Underwood 

Sesungguhnya ketika aku sedang nonton film, aku tidak terlalu bisa membedakan mana acting yang bagus dan mana akting yang jelek. Rasanya hampir tidak ada perbedaan karena kalau sang sutradara menganggap acting seorang artis itu kurang pasti akan diulang terus sampai sesuai keinginan si sutradara. Namun ketika aku melihat acting Kevin Spacey sebagai Frank Underwood di acara ini, OMG aku sampai merinding melihatnya karena aku yang orang awam dalam dunia acting saja bisa mengagumi penjiwaan peran yang dilakukan oleh Kevin Spacey di sini. Brilliant mungkin adalah satu kata yang bisa mencerminkan bagaimana Spacey mendalami perannya di sini. 

Dengan situasi politik di negaraku sendiri yang sedang bergejolak, sangat cocok sekali membahas acara ini yang kebetulan banget aku baru marathon nonton dari season 1 sampai 4. Aku tahu acara ini sangat bagus dan berbagai rating memberikan nilai yang sangat tinggi dan memenangkan cukup banyak penghargaan. Namun aku baru tertarik menontonnya belakangan ini karena aku merasa sedang kekurangan film yang bermutu. Akan ada banyak spoiler di sini, jadi bagi anda yang berniat nonton aku sarankan tidak membaca lebih lanjut. 

Warning!! Spoiler ahead. 

Pada dasarnya film ini bertemakan politik dan ber-setting di Gedung Putih, Washington. Frank Underwood adalah seorang Whip di Gedung Putih (gak tau itu posisi apaan, disini dijelasinnya kayak seseorang yang berusaha memenangkan vote ketika sebuah masalah dibawa ke Congress). Dia baru saja memenangkan Presiden dari kubu Demokrat, Garret Walker. Tanpa disangka Walker mengingkari janjinya kepada Frank yang tadinya sudah dijanjikan posisi Secretary of State (kayak menteri dalam negeri kalau gak salah) dan tetap meminta Frank berada di posisinya sekarang. Frank yang haus akan kekuasaan kecewa berat mendengar keputusan tersebut dan sejak saat itu dia memutuskan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang terlibat dalam keputusan tersebut. Bersama istrinya, Claire Underwood, yang juga sama haus kekuasaan dengan Frank, mereka membuat scheme perlahan-lahan untuk merintis jalan menuju puncak kekuasaan. 

Frank memulai langkahnya dengan memanfaatkan seorang reporter yang ambisius bernama Zoe Barnes untuk menghasut pendapat publik demi menyingkirkan rivalnya dengan membocorkan beberapa informasi rahasia. Lalu kemudian ia memanipulasi salah seorang anggota Congress yang alcoholic bernama Peter Russo untuk meruntuhkan reputasi Secretary of State pilihan Presiden. Posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Setelah berhasil meyakinkan public dan Presiden bahwa Secretary of Statenya tidak becus, Frank kemudian meyakinkan Presiden untuk menggantinya dengan orang pilihannya sendiri, Senator Catharine Durant. Frank juga memanfaatkan Peter Russo dalam beberapa hal untuk meningkatkan imagenya di mata Presiden. 

Karena Wakil Presiden terpilih adalah mantan Gubernur Pennsylvania, maka kota tersebut akan mengadakan pilkada khusus untuk memilih Gubernur baru mereka. Frank kemudian membantu Peter Russo mengatasi masalah ketergantungan alkoholnya dan mendukungnya untuk maju sebagai cagub kota tersebut. Hanya saja sesaat menjelang pemilu, Frank memanfaatkan seorang call girl untuk merayu Peter dan membuatnya kembali mabuk alcohol lagi. Tingkat elektabilitas Peter hancur dan ia mulai pesimis dan kembali mabuk-mabukan. Demi meningkatkan lagi elektabilitasnya, Peter berniat membocorkan semua yang sudah ia lakukan untuk Frank, hanya saja ia harus mati dibunuh oleh Frank sendiri dengan membuatnya seolah-olah ia tertidur di dalam mobil menyala dan keracunan karbon dioksida sehingga rahasia Frank aman. 

Kematian salah satu cagub membuat pilkada menjadi kacau balau. Frank kemudian memanfaatkan momen ini dengan menghasut Wakil Presiden untuk kembali menjadi Gubernur saja karena faktanya meskipun sebagai Wakil Presiden ia sangat tidak dihargai oleh Presiden dan beberapa anggota Congress itu sendiri. Pada akhirnya Wakil Presiden tersebut bersedia mengundurkan diri dan membuat posisi tersebut lowong, sesuai rencana Frank sejak awal. 

Dan sesuai rencananya, Presiden menunjuknya sebagai Wakil Presiden yang baru. Dengan masuknya Frank ke dalam lingkaran kepresidenan membuat ia mengetahui bahwa ada seorang pebisnis yang berteman sangat dekat dengan Presiden bernama Raymond Tusk. Ia juga kemudian mengetahui bahwa Raymond ini memiliki pengaruh yang besar terhadap berbagai keputusan Presiden, salah satunya adalah keputusan untuk tidak menjadikan Frank sebagai Secretary of State. Frank kemudian menjalankan lagi strategi barunya. Ia berusaha memisahkan Raymond dari Presiden dan kemudian mengadu domba mereka berdua. Melalui perjalanan yang panjang dan kelicikan Frank dan memanfaatkan hubungan istrinya dengan istri Presiden, ia berhasil membuat Department Of Justice (mungkin kayak Komisi Yudisial) membuka penyelidikan terhadap Presiden. Di saat yang bersamaan, Raymond juga diselidiki dan terancam hukuman penjara atas keterlibatannya dengan China sehubungan dengan pencucian uang. Pada akhirnya Raymond mengakui bahwa Presiden mengetahui pencucian uangnya dengan China. Hal ini menjadi alasan yang sangat kuat bagi House Judiciary Committee melakukan pemakzulan terhadap Presiden. Pada akhirnya Presiden yang menyadari waktunya sudah habis memutuskan untuk resign daripada dimakzulkan. Dan hal ini membuat Frank naik jabatan menjadi President Of United States. 

Sampai akhir jabatannya, Presiden Garret Walker ini pun tidak mengetahui bahwa Frank yang sedang memainkan benang di belakang layar. Ia masih percaya penuh kepada Frank yang ia anggap sebagai temannya. Film ini menunjukan gambaran kasar mengenai apa itu politik. Aku sendiri sebenarnya sempat bertanya, kenapa sih Frank sangat ingin mendapatkan kekuasaan tertinggi? Apa yang ia ingin lakukan dengan kekuasaan tersebut? Jawabannya adalah bahwa ia merasa ia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik untuk rakyat Amerika, meskipun dengan menghalalkan segala cara. 

Setelah ia dilantik sebagai Presiden, hal pertama yang ia lakukan adalah membuat program America Works (AmWorks) dimana ia menyediakan ribuan pekerjaan di kota Washington. Setiap orang yang belum memiliki pekerjaan dan mendaftar pada program ini dijamin 100% akan langsung dapat pekerjaan. Tentu saja pendanaan disediakan oleh pemerintah untuk perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan orang-orang ini. Dalam perjalanan untuk mengesahkan program ini, tentu Frank mendapat hambatan seperti pendanaan yang tidak disetujui oleh Congress (mengingatkan kita pada Ahok setiap kali mau bahas APBD), keraguan akan program ini, lawan politiknya yang khawatir apabila program ini berhasil akan menaikan nama Frank di pemilihan presiden berikutnya, dll. Tapi tentu saja Frank sekali lagi membuktikan bahwa ‘you either with me or you against me’. Dia melobi orang-orang yang bisa dilobi, menekan orang-orang yang menentang rencananya, memanfaatkan orang-orang yang sudah diberikannya jabatan, dsb. Sampai akhirnya ia berhasil meloloskan program ini, dan merubah pandangan skeptis masyarakat Amerika terhadap program tersebut. Acara TV yang tadinya mengolok-olok program ini kemudian berbalik menjadi mendukungnya karena kualitas pelayanan publik yang meningkat dan memberikan hasil yang signifikan. 

Dengan situasi politik yang terjadi di Indonesia baru-baru ini, aku bisa memahami kekecewaan banyak orang. Kemudian aku juga melihat kekecewaan itu berimbas dengan rencana untuk menyekolahkan anaknya ke luar negeri atau pindah ke luar negeri. Beberapa lagi juga ada yang menyuarakan untuk bertahan dan berjuang untuk membuat perubahan. Dan yah sebagai seseorang yang pernah berada di posisi keduanya, aku bisa memahaminya. Sewaktu SMA aku sempat berencana ingin kuliah ke luar negeri dan mencoba peruntungan di sana karena aku melihat kehidupan dunia di luar Indonesia terlihat begitu sejahtera. Well sebagai seseorang yang tumbuh besar di daerah kecil yang mall saja gak ada, aku rasa saat itu wajar memiliki keinginan untuk melihat dunia luar dan belajar darinya. Namun karena satu dan lain hal rencana itu gagal. Semasa kuliah aku bisa dibilang sudah melupakan rencana itu dan berniat untuk berjuang dan mensyukuri kehidupan yang aku jalani saat itu. Aku rasa salah satunya adalah karena aku bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah membuat duniaku menjadi luas dan aku menikmatinya, aku melihat bahwa masih ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini. Aku kemudian ikut terlibat dalam organisasi kemahasiswaan yang mengajarkan aku banyak hal seperti teamwork, profesionalisme, kritis dan tidak mudah menyerah. Aku belajar memiliki mental yang lebih baik, bahwa ketika seseorang memberikanmu tekanan, tugasmu adalah membuktikan kepada orang tersebut bahwa orang itu salah. Pada dasarnya aku juga belajar bahwa ketika kau tidak menyukai sesuatu, maka perbaikilah, jangan melarikan diri. Berhenti dan keluar dari organisasi ketika kau tertekan memang jalan yang mudah tapi bukan terbaik. 

Ketika aku mulai masuk dalam dunia kerja, aku seakan-akan dihempaskan kembali ke bumi. Di situlah kehidupan yang sebenarnya dimulai. Perlahan-lahan aku mulai belajar bahwa niat baik saja tidak cukup dan ketika kau berusaha melakukan perubahan, terkadang kau harus melakukan hal yang tidak kau sukai. I was being naive. Contoh klasik adalah apa yang akan kau lakukan ketika bos mu memintamu melakukan sesuatu yang menurutmu tidak benar? Seandainya kau tidak setuju dengan beberapa kebijakan perusahaan tempatmu bekerja, apa yang kau lakukan? Keluar dan pindah atau berusaha berjuang perlahan-lahan untuk mengubah perusahaan tempatmu bekerja? Berdasarkan pengalamanku dan juga dari cerita teman-temanku, aku mendapati bahwa kau bisa saja merubah kebijakan perusahaanmu kalau kau berada di jajaran manajemen. Tapi untuk mencapai ke sana, kerja keras saja tidak cukup. Karena dulu aku selalu mendapat impresi bahwa kita fokus bekerja sebaik-baiknya saja maka jabatan dan hal lainnya akan mengikuti. Percaya deh jika kita masih punya pemikiran seperti itu, maka aku akan bilang bahwa kau sangat naif. Pada prakteknya, dunia tidak seindah teori. Kau mungkin harus melakukan hal yang tidak kau sukai, hal yang sangat bertentangan dengan pribadimu sendiri, that’s what we call office politics. Faktanya dalam setiap kehidupan berorganisasi pasti ada unsur politik. Hell dalam organisasi kemahasiswaanku pun ada meskipun hanya sebagian kecil. Seperti Frank di film tersebut, kau tidak tahu siapa yang akan menusukmu dari belakang, kau tidak tahu kapan kau harus menusuk seseorang, siapa yang akan membelamu, siapa yang bisa kau percaya, dsb. And if you play it well, power will be within your grasp and then you can start to make changes, just like Frank. When you want to make a difference, words alone are not enough, you also need power. Dan untuk mendapatkan power itu, terkadang ada hal yang harus dikorbankan (like maybe your soul). Lalu kau akan mulai mempertanyakan dirimu sendiri, how far are you willing to go? Is this the one that you want to do for the rest of your life? Lalu jika kau saja tidak bisa membuat perubahan di tempatmu bekerja, apalagi membuat perubahan untuk negaramu. Karena aku yakin jika kau terlibat dalam partai politik pemerintahan, apa yang akan kau hadapi kurang lebih akan sama atau bahkan lebih parah. 

"In politics, it’s either we eat the baby, or we are the baby.” ~ Frank Underwood 

Dalam kasus Ahok baru-baru ini kita bisa melihatnya sendiri. Dia memiliki niat yang luar biasa baik, dia membantu banyak orang dan dia memiliki posisi yang cukup tinggi. Dia mempercayai hukum negara ini. Kesalahan terbesar dia adalah bahwa dia bukan politikus yang baik. Menurutku dia tahu apa yang harus dia lakukan ketika banyak mendemonya sebelum ia dijadikan tersangka. Mungkin dia bisa cari siapa dalang dibalik demo tersebut, menekannya, mengintimidasinya atau bahkan mungkin menjanjikannya sesuatu untuk menghentikan aksi demo tersebut. Tapi kalau itu dilakukannya maka itu akan menjadikannya sama saja dengan politikus lainnya dan hati nurani dia menentangnya karena ia ingin menciptakan sistem yang bersih dan berbeda dari para pendahulunya, dan ia akhirnya memutuskan percaya kepada sistem yang ada. Ini yang aku bilang bahwa punya niat baik saja tidak cukup, kau harus punya power. Dia membiarkan orang mendemonya sampai berjilid-jilid berharap masyarakat Jakarta tahu mana yang benar, membiarkan dirinya menjadi tersangka dan menghadapi pengadilan dengan harapan semua akan terbuka saat di pengadilan dan keadilan akan ditegakan. Harus kuakui, dia agak sedikit naif. Dengan ini semua lawan politiknya semakin percaya diri, dan perlahan-lahan power Ahok semakin berkurang. Dan akhirnya ia kalah di Pilkada dan hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara. 

Sekarang mulai muncul gerakan 1000 lilin dari berbagai masyarakat dan daerah. Aku sangat mendukung gerakan tersebut dan kalau bisa aku ingin ikut di dalamnya. Tapi kita juga harus bersiap-siap jika aksi tersebut tidak menghasilkan apa-apa karena faktanya adalah kita tidak punya power. Semoga saja aku salah. 

Aku tidak bermaksud mengecilkan usaha para orang-orang yang berusaha ingin membuat perubahan. Aku mendukungnya 100% dan berharap bisa belajar dari orang-orang seperti itu. Namun aku hanya mencoba mengingatkan bahwa jangan terlalu naif dan berharap hanya karena kita melakukan hal yang baik maka hasilnya akan kelihatan dan baik. Hidup ini tidak seperti film di mana yang baik selalu mengalahkan yang jahat. Akan ada orang-orang yang tidak setuju denganmu dan berusaha menyerangmu dan menjatuhkanmu. Pertanyaannya adalah apakah kau siap menyerang balik? Dan aku harap dari kasus Ahok ini kita bisa belajar banyak hal. 

“You see, the world will not change through na├»ve talks.” ~ Lelouch vi Britania 

Ada satu kutipan dari film yang berjudul Suits yang sangat aku suka. 
“When someone pointing a gun at you, you don’t give up and let them shoot you. You point a bigger gun at him, or you take his gun, or you strap a bomb to yourself, or any other things.” Dan menurut pendapatku dalam kasus Ahok ini, ketika dia berhadapan dengan orang-orang yang menodongkan pistol ke arahnya, dia tidak melakukan apa-apa dan menunggu polisi datang menyelamatkannya. Simply because he doesn’t want to kill, and therefore he is killed. 

"You can’t change the world without getting your hands dirty.” ~ Lelouch vi Britania


Thursday, December 15, 2016



Penantian sepuluh tahun. Itulah hal yang terlintas ketika game ini akhirnya keluar. Aku ingat sekali ketika potongan video klip dirilis tahun 2006 dan diperkenalkan sebagai Final Fantasy XIII Versus membuatku sangat bersemangat. Aku memainkan game ini dari seri ke-7, 8, 9, 10,10-2, 12. Aku tidak memainkan seri ke-11 karena itu dibuat sebagai game online. Dan harus ku akui bahwa game Final Fantasy-lah yang membuatku jatuh cinta pada dunia storytelling. Bagaimana mereka bisa menciptakan dunia dan karakter-karakter serta konflik-konflik di dalamnya. Jadi ketika serial selanjutnya diperkenalkan membuatku sangat bersemangat. Dan tidak tanggung-tanggung, mereka berencana merilis tiga instalment sekaligus pada saat itu yaitu Final Fantasy XIII, XIII Versus dan XIII Agito. 

Namun aku harus kecewa karena pada saat itu Square, selaku developer Final Fantasy, memutuskan untuk lebih mengembangkan Final Fantasy XIII (FF13), yang memang sebenarnya dijadikan sebagai instalment utama kelanjutan serial Final Fantasy. Kekecewaanku tidak berakhir di situ karena Final Fantasy XIII tampil begitu buruk dan mendapatkan banyak kritikan dari banyak fansnya. Aku sendiri hanya memainkan sekitar 20% saja dari game ini dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya karena sangat buruk. Berita buruk berikutnya adalah tertundanya pengembangan Final Fantasy XIII Versus tersebut bahkan sampai di cancel karena berbagai sebab. Bukannya memfokuskan untuk menyelesaikan pengembangan game yang sudah dinantikan tersebut, Square malah memutuskan membuat sequel dari FF13, dan tidak tanggung-tanggung, dua sequel di persiapkan yaitu FF13-2 dan FF13-3 Lightning Returns. Beberapa fans menjerit mengapa Square memutuskan mengembangkan sequel dari serial FF yang dianggap terburuk dan justru tidak mengembangkan FF13 Versus. 

Dan akhirnya penantian tersebut terjawab ketika FF13 Versus dilanjutkan pengembangannya dan akhirnya resmi dirilis sebagai Final Fantasy XV. Berbagai hype muncul kembali, Square dengan percaya diri meyakinkan bahwa serial ini adalah serial yang akan jauh lebih baik daripada Final Fantasy VII (yang dianggap sebagai serial Final Fantasy terbaik yang pernah ada). Sepuluh juta kopi dijadikan target penjualan Square, bahkan mereka merilis film prequel sebelum gamenya di rilis yaitu Final Fantasy XV : Kingsglaive yang diisi para pengisi suara aktor dan artis terkenal. Sebuah anime juga di rilis yang berjudul Final Fantasy XV : Brotherhood, seakan-akan menegaskan betapa luasnya dunia dan konflik game ini sehingga Square merasa harus merilis berbagai media untuk menjelaskan konflik dan dunianya. Dan akhirnya tanggal yang ditunggu tersebut pun tiba, 29 November 2016, Final Fantasy XV resmi dirilis setelah sepuluh tahun. Square mengumumkan bahwa mereka berhasil menjual lima juta kopi, 50% dari target mereka sudah tercapai, termasuk juga saya sebagai pembeli di hari pertama. 

Dan harus ku akui, Square membayar penantian sepuluh tahun tersebut setidaknya dari sisi gameplay. Mekanisme gameplaynya lebih dinamis ketimbang Final Fantasy XIII. Di sini kita mengendalikan Noctis yang memiliki kemampuan mirip dengan Gilgamesh di anime Fate Stay Night dengan Unlimited Blade Worksnya. Kita bisa mengendalikan hingga empat senjata sekaligus dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Sword sebagai senjata yang seimbang antara kecepatan dan kekuatan, two handed sword yang memiliki kekuatan lebih besar namun membutuhkan waktu untuk mengayunkannya atau dagger yang bisa memberikan combo lebih banyak karena kecepatannya namun dengan damage yang lebih kecil. Selain itu, Noctis juga bisa mengendalikan pistol, tombak perisai dan magic. Jadi kita bisa bebas mengkustomisasi senjata apa yang ingin kita gunakan. 

Noctis juga memiliki kemampuan untuk warp strike dimana ia akan melemparkan pedangnya ke arah musuh dan berteleportasi ke arah pedang tersebut. Sebuah teknik yang pertama kali aku lihat di film Final Fantasy VII : Advent Children. Dan ketika cerita berlanjut, Noctis akan mendapatkan beberapa senjata kerajaan yang memberikan status dan attack power luar biasa namun mengorbankan HP ketika menggunakannya. Ia akan mendapatkan skill Magister Strike. Akhirnya aku bisa merasakan menjadi Gilgamesh dengan teknik unlimited blade works. Ini adalah sebuah skill yang menyerupai limit di FF7,8 dan overdrive di FF10. Ketiga teman Noctis juga memiliki teknik sendiri-sendiri.

Magic lebih terbatas di sini karena hanya memiliki tiga elemen yaitu Fire, Blizzard dan Thunder. Jadi tidak ada magic-magic seperti Cure, Esuna, atau Holy di sini. Namun kita bisa melakukan crafting magic dan menggabungkannya dengan item-item tertentu untuk menciptakan multiple effect dari magic tersebut, misalnya ketika kita menggabungkan Fire dengan potion maka kita akan menciptakan healcast yaitu serangan magic fire dan sekaligus menyembuhkan HP casternya. Kombinasikan dengan item yang tepat maka kita bisa menciptakan magic mematikan seperti Flare dengan break damage limit. 

Konsep open world menjadikan magic sedikit lebih tricky di sini, karena selain melukai musuh, magic yang kita keluarkan juga bisa melukai teman kita sendiri meskipun damage yang dihasilkan tidak seberapa karena magic tersebut merusak lingkungan sekitar. Jadi ketika kita menyerang menggunakan Fire maka lingkungan sekitarnya akan terbakar, atau rawa-rawa yang membeku ketika kita menggunakan Blizzard. Magic pun menjadi salah satu serangan andalanku ketika menghadapi musuh yang memiliki serangan jarak dekat mematikan seperti Tonberry. 

Summon menjadi salah satu hal yang sedikit mengecewakan bagiku. Karena dari enam summon yang ada, hanya empat yang bisa dipakai dan kita tidak bisa menggunakan summon sesuka hati kita seperti Final Fantasy sebelumnya. Summon di sini berkaitan dengan cerita utama dan digambarkan sebagai dewa (God). Jadi kita tidak bisa sesuka hati kita memanggil dewa-dewa tersebut untuk membantu kita dalam pertarungan. Summon tersebut hanya dapat dipanggil dalam keadaan tertentu yang biasanya ketika kita sedang kesulitan. Contohnya, Ramuh hanya bisa dipanggil apabila pertarungan dirasa sudah terlalu lama, Shiva hanya bisa dipanggil apabila ada karakter kita yang tewas dan Noctis dalam keadaan sekarat (danger) meskipun kadang tidak selalu seperti itu. Sebagai gantinya, kita jadi lebih menghargai keberadaan summon tersebut dan betapa leganya ketika perintah summon muncul di layar kaca kita ketika kita sedang berusaha menyelesaikan pertarungan. Serangan para summon tersebut cukup mematikan sehingga disebut sebagai Divine Intervention, dan biasanya akan langsung mengakhiri pertempuran kecual lawan yang kita hadapi memiliki HP yang cukup tinggi. Aku ingat ketika aku sedang berburu salah satu senjata legenda dan mengharuskan menghadapi boss level 120!! Betapa leganya aku ketika perintah summon keluar dan Leviathan datang membantu, meskipun tidak langsung membunuh boss tersebut namun Leviathan mampu mengurangi setengah HP-nya. Atau juga betapa frustasinya aku ketika dalam sebuah dungeon mengharuskan aku menghadapi salah satu musuh paling menyebalkan dalam sejarah FF yaitu Bomb. Tiga karakterku tewas, dan Noctis hanya menyisakan sekitar 700 HP dari 6000 HP yang aku miliki. Aku hampir game over namun perintah summon tidak juga muncul. 


Konsep open world diperkenalkan dalam serial ini, berbagai macam side quest dan dungeon tersembunyi siap kita jelajahi. Namun salah satu resiko dari open world dalam RPG adalah kita bertemu musuh yang belum waktunya kita hadapi. Aku ingat ketika aku baru level 8 tidak sengaja menemukan dungeon dan ketika menjelajahinya menemukan boss level 51 yang serangan biasanya memberikan damage 9999 kepadaku. Selain itu Square juga menyediakan konsep Ascension Grid, mirip Sphere Grid di FF10 yang memberikanmu pilihan tentang bagaimana kau ingin meningkatkan kemampuan dan status karaktermu. Selain itu, beberapa mini game juga disediakan seperti fishing, cooking, dan monster arena. Konsep siang malam juga digunakan dalam RPG ini sehingga musuh yang muncul pada malam hari jauh lebih kuat dibandingkan musuh yang muncul pada siang hari. 

Secara gameplay, FFXV sangat memuaskan bagiku. Lalu bagaimana dengan story-nya? Story adalah salah satu kelemahan dalam serial FF kali ini. Sesungguhnya aku rasa mereka memiliki ide cerita yang menarik, namun sayangnya eksekusi dan cara penceritaannya buruk. Aku hampir tidak mengerti jalan cerita dari game ini, aku juga tidak terlalu peduli terhadap beberapa karakter penting dan motivasi karakter antagonisnya tidak jelas. Beberapa bagian seperti ditulis terburu-buru dan memberikan banyak pertanyaan. Aku baru mengerti cerita utama ini setelah aku mencarinya di internet, jadi aku akan mencoba menceritakannya di sini. Akan ada banyak spoiler, jadi bagi kalian yang belum memainkan gamenya dan ingin mencoba memahami sendiri alur cerita gamenya disarankan untuk tidak membacanya. Meskipun mungkin dengan mengetahui beberapa hal akan membuatmu jauh lebih memahami dunia FFXV. 

SPOILER ALERT!! (diambil dari berbagai sumber dan gamenya sendiri) 

Enam dewa (summon) yang dikenal sebagai The Six Astrals turun dari langit dan menciptakan dunia yang bernama Eos dan kemudian terbentuklah peradapan manusia dan kerajaan. Tetapi salah satu dari enam dewa tersebut, Ifrit, membenci kaum manusia dan menyebarkan sebuah penyakit bernama Starscourge yang mengubah manusia menjadi daemon (monster). 

Untuk memerangi penyakit tersebut, para dewa lainnya memberikan manusia sebuah kristal, yang dengan cahayanya akan menahan kekuatan kegelapan tersebut. Dan bersamaan dengan hal itu, para dewa tersebut juga memilih dua orang yang dijadikan sebagai pemimpin untuk membawa manusia memerangi Starscourge. Mereka adalah keluarga Fleuret sebagai Oracle dan keluarga Lucis Caelum sebagai pelindung kristal yang juga dibekali dengan cincin yang bernama Ring of Lucii. Generasi pertama dari Lucis Caelum ini berhasil menjalankan tugasnya dan melindungi dunia dari kegelapan dengan menyerap penyakit tersebut dari orang-orang yang terjangkiti. Penyakit tersebut mengingatkanku kepada penyakit yang ada di film FF7 Advent Children. 

Beberapa tahun berlalu, empat kerajaan pun berdiri yaitu kerajaan Lucis, Tenebrae, Accordo dan Niflheim. Apabila kita menonton Kingsglaive maka kita tahu bahwa kerajaan Niflheim menyerang kerajaan Tenebrae, sebuah kerajaan dimana yang menjadi tempat tinggal dari Lunafreya Nox Fleuret. Lunafreya ditahan dan dijadikan sandera oleh Nifleheim. Dan ketika Nifleheim menawarkan perjanjian damai dengan Lucis dengan mengutus salah satu chancellornya bernama Ardyn Izunia, mereka menawarkan agar pangeran Lucis yaitu Noctis agar menikah dengan Lunafreya yang juga merupakan temannya sejak kecil. 

Namun ternyata Niflheim punya rencana lain dan seperti yang kita saksikan dalam filmnya, mereka menyerang Lucis, membunuh ayah Noctis dan berusaha menguasai kristal. Lunafreya melarikan diri ke Altissia dengan membawa Ring of Lucii yang dititipkan oleh ayah Noctis kepadanya untuk diberikan kepada Noctis dan Noctis berhasil dilarikan sebelum peperangan terjadi. Dan di sinilah menjadi awal mula permainan Final Fantasy XV ini. Noctis sedang dalam perjalanan ke Altissia untuk menjalankan tugasnya sebagai pangeran Lucis dan menikah dengan teman masa kecilnya, Lunafreya. Dalam perjalanannya, Noctis mendapatkan kabar bahwa Insomnia, ibukota dari Lucis di serang oleh Niflheim dan membunuh Luna dan ayahnya. Noctis memutuskan untuk kembali namun mendapati bahwa jalur ke arah sana sudah di tutup oleh pasukan Niflheim. Noctis bertemu dengan salah satu pasukan Kingsglaive bernama Cor dan mengkonfirmasi kematian ayahnya. Cor juga menunjukan Noctis untuk menjadi penerus ayahnya maka ia harus mengumpulkan senjata para raja terdahulu. Dan saat itu dimulailah perjalanan Noctis mengunjungi beberapa dungeon untuk mendapatkan seluruh senjata tersebut. Dalam misinya tersebut juga ia bertemu dengan Ardyn yang sebelumnya menjadi utusan Niflheim dalam perjanjian damai dengan Lucis dan membantu Noctis menemukan beberapa dewa yang tersembunyi dan mengalahkannya untuk mendapatkan bantuan dewa tersebut sebagai summon. 

Sepanjang perjalanan, Noctis mengetahui bahwa kristal yang sebelumnya dilindungi oleh keluarganya ternyata digunakan untuk membuat tentara dari daemon. Noctis pada akhirnya berhasil menemukan cara pergi ke Altissia dan bertemu dengan Lunafreya. Luna sebagai Oracle dari keluarga Fleuret harus menjalankan tugasnya berkomunikasi dengan para dewa agar mereka mau membantu Noctis. Dan ketika Luna memanggil Leviathan, Altissia diserang oleh Niflheim, membuat kekacauan dan sang naga menolak membantu Noctis. Noctis bersusah payah menghadapi amukan Leviathan ketika Ardyn tiba dan membunuh Lunafreya. Dengan sisa kekuatannya, Luna memberikan kekuatan tambahan kepada Noctis untuk menghentikan Leviathan. Noctis berhasil mengalahkan Leviatahan namun membuat kota tersebut hanyut oleh serangan naga air tersebut membuat Luna hanyut dan mati. 

Noctis dan rekannya melanjutkan perjalanan, mereka memutuskan untuk mencari kristal dan pada akhirnya berhasil menemukannya. Namun mereka dikepung oleh banyak Daemon, dan ketiga rekannya meminta Noctis untuk meninggalkan mereka dan segera mencari kristal tersebut. Ketika menemukan kristal tersebut dengan harapan mendapatkan kekuatan untuk membantu ketiga temannya, Noctis justru bertemu dengan Ardyn dan mengatakan bahwa nama aslinya adalah Ardyn Lucis Caelum, dia adalah generasi pertama dari Lucis Caelum yang sebelumnya dipilih oleh para dewa untuk menyelamatkan manusia dari Starscourge. Namun karena ia terlalu banyak menyerap daemon ke dalam tubuhnya membuat dirinya hidup abadi dan penuh dengan kegelapan sehingga para dewa meninggalkannya dan memilih raja yang lain. Noctis terserap ke dalam kristal dan bertemu dengan Bahamut, dari situ ia menemukan bahwa ia adalah yang terpilih dan takdirnya sebagai True King adalah untuk membunuh Ardyn dan membasmi seluruh daemon dari dunia dengan mengorbankan nyawanya sendiri. 

Sesungguhnya ide ceritanya menarik, namun penceritaannya yang buruk. Informasi mengenai karater villain dalam hal ini, Ardyn sangat sedikit. Ketika ia memberi tahu bahwa ia adalah Ardyn Lucis Caelum, aku tidak tahu siapa dia, apakah dia ternyata adalah kakak dari Noctis atau raja sebelum ayah Noctis. Motivasi Ardyn tidak jelas, tidak diceritakan mengapa ia membantu Noctis di awal dan kemudian berusaha membunuhnya? Apa yang membuatnya menjadi villain? Backstory yang kurang jelas membuatku kurang simpati terhadap karater ini. Yang aku tahu hanyalah ketika Bahamut menjelaskan kepada Noctis bahwa Ardyn adalah acursed dan hanya Noctis yang bisa membunuhnya. Seluruh informasi baru aku dapatkan dari internet. Memang sulit menciptakan karakter villain se-epic Sephiroth dari FF7. 

Selama perjalanan, Noctis juga ditemani oleh tiga orang temannya yaitu Glaidolus, Ignis dan Prompto. Tidak dijelaskan juga siapa mereka bertiga ini, yang aku tahu adalah mereka seperti pengawal pangeran Noctis. Tidak seperti FF sebelumnya yang selalu memberikan kita adegan untuk menjelajahi masa lalu dan tempat tinggal setiap karakternya untuk membuat perkembangan karakter, kali ini aku tidak mendapati itu sehingga mereka bertiga terasa seperti karakter numpang lewat. 

Lunafreya. Karakter ini lebih tidak terasa lagi perannya. Ia hanya muncul sepotong dalam kenangan masa lalu dan ketika Noctis berhadapan dengan Titan. Sebagai Oracle ia juga berperan menyerap penyakit Starscourge dari orang-orang yang terjangkiti. Dan setelah kematiannya, kita baru mengetahui bahwa dengan menyerap penyakit tersebut membuat tubuhnya rentan dan akan mati tidak lama lagi. Aku tidak tahu apa yang Square harapkan ketika membunuh karakter ini, apakah ia berharap kita akan menangis dan sedih seperti ketika Sephiroth membunuh Aerith? Permasalahannya adalah aku tidak peduli terhadap karakter ini. Jadi ketika ia mati pun aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada element of surprise, sedih ataupun marah. Selain itu sebagai calon istri Noctis pun ia tidak terlihat memiliki chemistry sehebat Tidus dan Yuna dari FF10. Aku melihatnya lebih sebagai kakak adik dengan Noctis karena Lunafreya empat tahun lebih tua dari Noctis. Penggambaran karakter ini sangat buruk. Ia juga memiliki kakak bernama Ravus Nox Fleuret. Karakter ini juga sama tidak jelasnya apakah ia karakter baik atau jahat. Di Kingsglaive ia terlihat berusaha mencuri Ring of Lucii, dan di game pun dia juga sempat ingin membunuh Noctis. Namun ketika bersama dengan Luna, ia justru mendukung Luna untuk menyerahkan Ring of Lucii kepada Noctis. Pada akhirnya karakter ini tewas terbunuh OFF SCREEN. Jadi kita tidak tahu apa yang terjadi kepadanya dan tiba-tiba mendapati mayatnya tergeletak dan kita mendapatkan senjata royal arms terakhir. 

Dan ketika Noctis terhisap oleh Kristal, Bahamut memberi pertanyaan kepadanya apakah ia siap mengorbankan nyawanya untuk memenuhi takdirnya dan menyelamatkan dunia dari daemon. Noctis tidak menjawab dan tiba-tiba adegan berubah ke sepuluh tahun kemudian dimana Noctis terdampar di sebuah pulau. WHAT THE HELL?? Aku sempat berpikir adegan sepuluh tahun kemudian ini adalah mimpi yang sedang dijalani ketika ia terperangkap di dalam Kristal, namun ternyata aku salah Jadi bagaimana Noctis keluar dari Kristal? Dan apa yang dia lakukan selama sepuluh tahun? Karena Daemon menjadi semakin merajalela. 

Semenjak Squaresoft berubah menjadi SquareEnix, kualitas Final Fantasy semakin menurun. Final Fantasy 10 menjadi serial FF terakhir yang diciptakan oleh Squaresoft dan memiliki alur cerita yang luar biasa bagiku. Baik itu dari sisi tema, konflik, pengembangan karakter dan unsur romancenya. Dan apabila Square berharap bahwa FF 15 ini lebih baik daripada FF7, mereka harus berpikir ulang. Untungnya hal ini masih tertolong dengan gameplay yang menarik sehingga aku masih bisa menikmati sidequestnya.

Tuesday, July 12, 2016



Mia Thermopolis is back!! 

Oke aku tahu sebenarnya buku ini lebih cocok untuk cewek. Tapi terkadang cowok juga butuh bacaan ringan sebagai selingan dan tidak selalu melulu berupa topik serius dan berat seperti Game Of Thrones atau buku-buku Dan Brown. Selain itu aku juga sudah mengikuti buku ini dari seri pertama sekitar 14 tahun yang lalu ketika aku masih kelas 1 SMP. Pada waktu itu salah satu temanku merekomendasikan buku ini ketika kami sedang berkoresponden. A lot of crazy things happened during those time, dan kebetulan tokoh utama pada buku ini berumur kurang lebih sama denganku sehingga konflik-konflik yang terdapat di dalamnya cukup mengena buatku. Buku ini jugalah yang membuatku jatuh cinta pada gaya penulisan Meg Cabot menggunakan sudut pandang orang pertama dan membuatku mengoleksi hampir seluruh bukunya. 

Singkat cerita saja, Princess Diaries menceritakan seorang perempuan remaja berumur 14 tahun yang tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa ia adalah seorang putri dari sebuah kerajaan kecil di Eropa bernama Genovia. Seketika itu juga kehidupannya berubah total. Ia yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi pusat perhatian di sekolahnya dan mulai menjalani kehidupan menjadi putri dan belajar untuk memerintah sebuah negara. Dengan sepuluh buku yang sudah terbit, aku rasa aku tidak mungkin menceritakan semuanya di sini. Pada dasarnya setiap buku menceritakan kehidupan sehari-hari Mia dan teman-temannya. Mulai dari kisah asmaranya, asmara temannya, persahabatannya, keluarga kerajaannya, keluarganya, keluarga teman-temannya, pengawalnya, negaranya, neneknya, sekolahnya dan masih banyak lagi. Sepuluh buku yang lucu, menarik dan terkadang menegangkan yang juga menemaniku sejak kelas 1 SMP sampai aku kuliah. Meg Cabot sudah menentukan bahwa buku kesepuluh akan menjadi buku terakhir seri Princess Diraries dan terbit pada tahun 2009. Buku itu juga menjadikan kelulusan Mia dari SMUnya sebagai temanya. Enam tahun kemudian dan aku dikejutkan bahwa Meg Cabot memutuskan untuk melanjutkan kembali serial Princess Diaries. Sesuatu yang disambut suka cita olehku dan tentu seluruh fansnya. 

[SPOILER ALERT] 

Mia Thermopolis sudah berusia dua puluh enam tahun di buku terbaru ini. Dan sesuai judulnya, Michael Moscovitz melamarnya. Banyak hal terjadi selang beberapa tahun dari buku sepuluh ke buku sebelas. Ayah angkat Mia, Mr. Gianini, yang juga guru Aljabarnya sewaktu SMA meninggal dunia karena serangan jantung, Michael mendirikan perusahaan yang dinamai Pavlov Surgical yang berasal dari nama anjing kesayangannya yang berfokus pada robotik untuk proses operasi. Lily Moscovitz mengambil jalur hukum, sesuatu yang bertolak belakangan dengan impiannya dulu, Lana Weinberger sudah menikah dan memiliki anak, sementara Tina Hakim Baba masih berkutat dengan putusnya ia dengan Boris Pelkowski di buku sepuluh dan sedang dalam proses mengambil gelar kedokteran psikologi, dan Grandmere... well masih tetap Grandmere. Tapi tentu hal yang paling mengejutkan adalah bahwa Mia PUNYA ADIK!! Well tentu bukan Rocky maksudku, anak dari hasil pernikahan ibu Mia dengan Mr. Gianini, namun anak tidak sah dari hubungan gelap ayah Mia dengan perempuan lain bernama Olivia. Hal ini disembunyikan oleh ayahnya selama dua belas tahun karena perjanjiannya dengan sang ibu yang tidak mau anaknya diekspos karena ia adalah seorang putri kerajaan. Dan Mia tentu saja seperti biasa tidak bisa tinggal diam ketika ia tahu adiknya akan dibawa oleh pamannya ke negara bernama Qalif di Timur Tengah. 

Kembalinya kisah Mia dalam Princess Diaries ini membawa sedikit elemen nostalgia bagiku dan aku yakin juga bagi hampir seluruh pembacanya. Karakter dan kehidupan Mia sangat dekat denganku setelah membaca sepuluh buku hariannya. Aku rasa buku inilah yang mengeluarkan rasa ingin tahuku akan budaya negara lain terutama Amerika karena menurutku Meg Cabot cukup luar biasa dalam menuliskan dan menggambarkan dunia Mia melalui sudut pandang orang pertama. Menurutku ia sangat berhasil membuat karakter ini menjadi begitu nyata karena banyak elemen-elemen dalam dunia nyata yang ia masukan ke dalam bukunya seperti komentar Mia ketika dua filmnya yang dibintangi oleh Anne Hathaway di rilis, artis-artis papan atas yang berkunjung dan kenal dekat dengan nenek Mia, bagaimana Mia sangat peduli terhadap lingkungan, sampai undangan pernikahan Kate Middleton dan pangeran William. Unsur humor juga tidak ketinggalan, terutama ketika Lily Moscovitz menirukan percakapan populer ala Liam Neeson dari Taken, yang sayangnya ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi kurang mengena. “I’ve got a specific skills. Skills that I acquired after a very long time of career, skills that make me a nightmare for people like you.” Bayangkan ketika Lily mengucapkannya ketika Mia membutuhkan bantuannya. Ia menjadi sama mengerikannya dengan Liam Neeson. Dengan caranya sendiri. Banyak terminologi film-film yang selalu hadir dalam buku Princess Diaries, dan bagiku yang juga cukup sering nonton film menjadi salah satu daya tarik tersediri. Aku masih ingat ketika Mia mengutip opening song dari FRIENDS “So no one told you life was gonna be this way” dan ia mengamininya karena tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang putri. 

Beberapa sedikit kekecewaanku adalah meskipun ini judulnya Royal Wedding, namun sangat sedikit sekali pembahasan persiapan pernikahan itu sendiri. Buku ini lebih berfokus kepada bagaimana Mia ternyata memiliki adik dari hubungan gelap ayahnya. Dan cara Mia mengatasi setiap masalah masih sama seperti ketika ia berusia delapan belas tahun. Kurasa gap yang ada dari buku sepuluh ke sebelas cukup besar sehingga Meg merasa apabila ia merubah terlalu drastis kepribadian Mia, hal itu justru menghilangkan karakter dan sifat Mia yang sudah lama dikenal oleh fans. Sehingga meskipun sesungguhnya ada jeda beberapa tahun, namun aku tidak merasakan perubahan karakter dan kedewasaan dari Mia itu sendiri. Namun bagiku memang hal tersebutlah yang membuat cerita ini masih menarik untuk diikuti. 

Meg juga membuat buku ini sebagai penghubung untuk buku barunya mengenai buku harian adik Mia. Karena Meg adalah spesialis tema Young Adult, sehingga aku pikir ia tidak bisa melanjutkan kisah Mia yang sudah dewasa dan akan segera memiliki anak kembar. Jadi ia menciptakan lagi karakter Olivia, si adik Mia yang berusia dua belas tahun. Bagiku masih banyak yang bisa di eksplor oleh Meg dalam dunia Mia. Aku akan sangat tertarik untuk mengetahui bagaimana Mia melalui masa kuliahnya dan aku harap Meg Cabot masih mau menuliskannya lagi sebagai salah satu spin off. 

PS : Fat Louie masih ada, namun ia sudah tua dan sudah tidak makan kaus kaki lagi. Kerjanya sekarang hanya makan dan tidur saja. 




So I got this from Facebook, about the history of Pokemon, since we all know that Pokemon Go is quite popular this day. This is a short story of how Pokemon was born. I don't know who wrote this so credit to original uploader.




 












Friday, May 13, 2016




The Mad King 
Aegon membuat Iron Throne dari pedang musuh-musuhnya yang dilelehkan oleh api naga dan dijadikan satu. Ibukota King’s Landing dibangun di bagian timur pesisir tempat Aegon dan saudarinya tiba pertama kali, dan Aegon memerintahkan pembangunan istana di bukit tertinggi, The Red Keep. Clan Targaryen berkuasa selama 300 tahun lamanya sampai masa Aerys Targaryen atau yang biasa kemudian disebut sebagai The Mad King. 


Pemerintahan Aerys terlihat sangat baik pada awalnya, namun hal itu tidak lepas dari pengaruh penasihatnya, Tywinn Lannister sebagai Hand of the King selama 20 tahun lamanya. Aerys semakin lama terlihat semakin paranoid, iri dengan kesuksesan yang banyak dikreditkan kepada Tywinn. Ser Ilyn Payne, kapten dari pasukan pengaman Tywinn kedapatan mengomentari tentang siapa sebenarnya penguasa Westeros. Sebagai akibatnya, Aerys memerintahkan pengawalnya untuk mencabut lidahnya dengan tang besi panas. 
Tywinn punya keinginan untuk menikahkan putrinya, Cersei Lannister dengan Rhaegar Targaryen, anak dari Aerys. Namun bukannya menyetujui untuk bersatu dengan clan pengikut setianya dan bertambah kuat, Aerys lebih suka menghina Tywinn dengan menikahkan Rhaegar dengan Elia Martell dari Dorne dan mengindikasikan bahwa clan Lannister tidak pantas dengan Targaryen. Tidak cukup sekedar itu, Aerys menunjuk Ser Jaime Lannister sebagai Kingsguard. Seorang Kingsguard harus setia selamanya kepada rajanya dan membuat Jaime harus memutuskan hubungan dengan keluarganya membuat Tywinn kesulitan menentukan pewaris dari Casterly Rock.

Tywinn yang sudah lelah dengan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya oleh Aerys yang semakin lama semakin haus darah dan paranoid, memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi Hand of The King dan kembali ke Casterly Rock. Setidaknya Tywinn berhasil mengundurkan diri dengan hidup-hidup. Penggantinya tidak seberuntung itu.
Clan Stark yang sudah menjadi kepala penjaga bagian utara selama bertahun-tahun dan mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga Targaryen harus terpecah. Rhaegar Targaryen menculik Lyanna Stark. Putri dari Rickard Stark dan tunangan dari Robert Baratheon. Kakak laki-lakinya, Brandon Stark murka dan pergi ke King’s Landing menuntut dibebaskannya adik perempuannya dan Rhaegar dibunuh. Aerys menahan Brandon karena berkhianat dan memanggil ayahnya untuk datang ke King’s Landing untuk menebus anaknya. Ketika Rickard mematuhi panggilan tersebut, Aerys tiba-tiba menjadi semakin marah dan menahan Rickard juga karena berkhianat. Rickard Stark dibakar hidup-hidup oleh Aerys di depan mata Brandon Stark.

Brandon yang juga ada disana dipasangkan sebuah tali kulit yang terhubung dengan alat pencekik melilit di lehernya. Aerys mengatakan bahwa Brandon bisa menyelamatkan ayahnya.

Sebuah pedang diletakan di lantai jauh dari jangkauan Brandon, dan semakin Brandon berusaha menggapai pedang tersebut, semakin alat tersebut mengencang di lehernya. Brandon Stark mencekik dirinya sendiri mencoba membebaskan ayahnya yang dipanggang hidup-hidup di dalam jubah perangnya. Aerys dilaporkan tertawa histeris ketika kedua orang tersebut dibunuh secara brutal di hadapannya.
Aerys yang takut akan adanya balas dendam memutuskan untuk menghabisi seluruh keluarga Stark. Ia memanggil Eddad Stark dan juga tunangan Lyanna, Robert Baratheon melalui Jon Arryn yang mengasuh mereka. Namun Lord Arryn menggabungkan Clan Stark dan Clan Baratheon dalam pemberontakan. Robert bersumpah akan membunuh Rhaegar dan menyelamatkan Lyanna. 


Tuesday, May 10, 2016



Belakangan ini banyak banget orang yang men-share artikel-artikel seputar tempat wisata di berbagai daerah di Indonesia ini. Tujuannya sih simple aja, ingin menunjukan bahwa sebenarnya Indonesia pun memiliki tempat wisata yang tidak kalah dari negara-negara di luar sana. Terutama dari segi keindahan alamnya. Tapi aku pribadi jujur lebih suka travelling langsung ke ke luar Indonesia. Sehingga ketika ada teman yang mangajak travelling di dalam negeri, biasanya aku akan langsung bilang untuk lebih baik menabung sedikit lebih lama lagi tapi destinasinya bisa lebih jauh. Berikut ini beberapa alasan mengapa aku lebih memilih travelling ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri : 

1. Transportasi 
Ketika kamu pergi travelling terutama ke negara-negara maju, mereka sudah memiliki sistem transportasi yang jauh lebih baik daripada kita. Dari sisi kenyamanan dan kemudahan. Negara-negara populer tujuan destinasi orang Indonesia seperti Korea dan Jepang mampu memberikan kemudahan bagi kita para traveller untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bandingkan dengan Indonesia. Mau ke Bandung aja semua orang pada bawa mobil pribadi dan akhirnya bikin jalanan penuh dan macet. Dan seandainya sudah ada kereta yang mengantarkan kita tiba di Bandung, sampai di sana kita tidak tahu bagaimana menuju destinasi yang kita ingin tuju. Aku pernah traveling ke Bali dan pada saat itu aku tidak ingin menyewa mobil harian yang men-charge kamu langsung sekian jam karena pada saat itu aku hanya berencana untuk bersantai di hotel namun aku tetap butuh transportasi ketika ingin pergi makan. Mau tidak mau kita harus memanggil taxi atau dalam case ku pada waktu itu menggunakan GrabCar dengan tarif yang lebih murah dibandingkan taxi konvensional. Bahkan di kota populer seperti Bali saja tidak ada transportasi umum yang memadai, apalagi di daerah lain yang jarang diketahui orang. Hal seperti ini yang membuatku terkadang malas traveling di dalam negeri. 

2. Culture 
A country is defined by its people’s behaviour. Traveling ke negara lain memberikan kita pengetahuan baru mengenai budaya negara tersebut. Paling gampang mengamati budaya suatu negara adalah dengan mengamati sikap dan kebiasaan orang-orangnya. Ketika aku traveling ke Swiss, hal yang paling menakjubkan yang pernah aku lihat adalah sistem transportasinya. Tidak ada portal yang menjaga penumpang ketika ingin naik kereta atau tramp. Tidak ada petugas yang menjaga untuk memeriksa apakah penumpang sudah beli tiket atau belum. Biasanya pada sebuah stasiun sudah disediakan semacam box untuk membeli tiket sendiri sehingga setiap penumpang yang ingin naik transportasi umum harus sadar sendiri untuk beli tiket dulu baru naik meskipun sebenarnya pintu kereta sudah mau tertutup. Jadi singkatnya, kalau orang mau naik transportasi umum tapi gak mau bayar pun bisa aja karena tidak ada yang ngecek. Sementara di Korea, budaya self service seperti sudah menjamur di setiap tempat makan, di Jepang sangat terkenal dengan budaya antrinya. Memperhatikan hal-hal seperti itu akan membuat kita sadar betapa terbelakangnya orang Indonesia. Maka wajar saja terkadang Indonesia sering digambarkan sebagai negara miskin oleh film-film Holywood. 

3. Food 
Jalan-jalan ke luar negeri memberikan kamu kesempatan untuk sejenak melupakan kebosanan makan Indonesia dan menikmati makanan dari negara tersebut. Apabila kamu sangat menyukai makanan Indonesia, maka aku jamin makanan Thailand akan sangat cocok untukmu. Kedua jenis makanan ini menggunakan rempah-rempah sebagai daya tariknya. Bumbu yang meresap sampai ke tulang dan dilengkapi dengan aroma dari daun herbal akan menjadikan kuliner sebagai salah satu tujuan wisata selain mengunjungi tempat wisata. Selain itu setiap negara biasanya memiliki jajanan mereka masing-masing atau biasa yang disebut sebagai street food. Jepang sendiri memiliki banyak sekali jenis cemilan manis yang bisa membuat khilaf orang yang hobi makan. 

4. Musim 
Bosan dengan musim yang itu-itu saja. Travelling ke negara yang memiliki empat musim akan memberikan kita sebuah pengalaman baru. Udara yang sama sekali berbeda. Negara yang memilki empat musim biasanya cenderung lebih bersih karena kebanyakan suhu negara tersebut cukup dingin. Karena udara yang dingin maka biasanya jarang ditemukan motor di jalanan sehingga membuat udara menjadi sejuk dan bebas polusi. Ketika aku ke Korea aku cukup iri ketika mengunjungi Cheonggyecheon Stream, sebuah aliran yang mirip sungai dengan jalan setapak di kanan kirinya dan dipenuhi dengan pohon-pohon dan tanaman yang rindang membuat udara menjadi sangat sejuk. Cocok digunakan untuk lari maraton. Atau Han Gang park yang cukup luas dan banyak orang-orang bermain skateboard dan disediakan air taman yang bisa langsung diminum. Bahkan ketika kita berjalan kaki cukup lama pun tidak akan masalah karena cuacanya tidak sepanas di Jakarta sehingga tubuh kita tidak berkeringat dan badan tidak menjadi terasa lembab dan bau. 

Oke itu lah hal-hal yang membuatku lebih tertarik untuk travelling ke luar negeri dibandingkan di dalam negeri. Semua ini hanya pendapat pribadi dan bagiku permasalahan utama di negeri ini adalah transportasinya. Mau bikin kereta cepat dari untuk berpindah kota tapi fasilitas transportasi di kota tujuannya tidak memadai dan informasi rute transportasi yang sulit ditemukan tentu akan sangat menyulitkan kita untuk travelling.

Saturday, April 2, 2016



Japan is a queueing country. Almost everything you do in here, you need to queue. From entering the train, paying at convenience store, even crossing the street. The worst queue that I have seen so far is in Sushi Dai, Tsukiji Market where you have to wait for FIVE HOURS just to eat sushi. And they sold out since 9 A.M. Well, I’m trying to list and give some review of several places based on my trip before. 

Osaka 
If you’re into anime like myself, then you probably have already known that Osaka was the capital city of Japan during Toyotomi Hideyoshi period. But when Hideyoshi passed away, Ieyasu Tokugawa defeat Hideyoshi’s son, took charge and moved the capital city to Edo (now known as Tokyo). Osaka Castle was Hideyoshi’s place and now have become the main tourist attraction. If you arrived late at Tokyo like myself, then you might want to went there first by using the overnight bus, therefore you can save some time and money because you didn’t have to spend money on Hotel. I arrived at 5 PM at Narita, so overnight bus is the best choice for me. The bus depart at 11.15 PM and arrived at Osaka at 08.20 AM. We picked Universal Studio for our time in Osaka, so we didn’t have time to visit Osaka Castle and any other places. 

Hogwarts Castle

Universal Studio Japan 
USJ is known for its Harry Potter theme park. But they also known for the long queue. Sadly we only got to play three attractions from morning till noon because it took three hours wait for one attraction, unless you purchase the express ticket, which I recommend you do. Their Quidditch game is the main attraction in Harry Potter world, and I have to say that it’s amazing. Forget Transformer in USS, this Quidditch game is in another level and bring you to the Harry Potter world from first person view, you get to see Dementor and a dragon look directly and closely into your eye. If you decide to visit USJ, I suggest you go all out by purchasing the Express Ticket, If you don’t want to, you may have to pick two to three attractions you want to try. They also have Resident Evil attraction, which you can experience killing zombie who is a real person dressing as a zombie. But you need to pay another extra 3500 Yen. In the outside of this theme park, they have Takoyaki Museum. Osaka is very well known of it’s Takoyaki and Okonomiyaki. And I have to say that their Takoyaki is very good. The octopus inside was quite big and you can taste it, totally different from Takoyaki served in Jakarta with a tiny octopus inside. 

Kiyomizudera at night

Kyoto 
I have written Kyoto before which you can find in here. Kyoto is not that far from Osaka and can be reached by train stopping in Kyoto station. I stayed at Kaede Guesthouse. It’s a guesthouse with eight bunk bed inside, but they are very clean, comfortable, and have a lot of facility in there. They even have a photocopy machine which we can use. We met the owner at night when we try to relax in their lounge at reception desk. And luckily my brother is very fluent in Japanese and have some chat with him and the owner offered us some Sake if we want. Another option is you can visit Gion, and hopefully you can meet a Geisha in there. Gion also served an amazing Gyoza. Some of the places in Kyoto is free, and they also sell a lot of mochi. And don’t worry about getting tricked, because the price is all the same weherever you buy. It can get a little expensive if you buy Kyoto Mochi in Tokyo though. There was this store in Arashiyama where I bought mochi. The store owner is an old woman which I take around 60 – 70 years old. And after I paid, she looked very happy and kept saying hontouni arigato gozaimasu (I’m very thank you) repeatedly. I was very touched and at the same time felt a little sad for her. There was a lot of store who sold almost the same things in there, so I guess she didn’t get a lot of buyer to her store. 



Tokyo 
As the capital city of Japan. Tokyo is a busy place. The people in here walk very fast and sometimes makes you wondering if you are just get in their way. Yet they seem very patient when they have to queue. Their main transportation is train, and you need to remember that in some line, they can have two different trains. They have what they called an express train which stop only in big station. So you need to pay more attention wheteher you board on the right train because there is a possibility the train you board don't stop at the station you want. To tell you the truth, I have no idea how to know which station the express train stop, because I just followed my brother all the way, but he said that you can read it in the announcement board which usually located near the waiting line. Some people used JR card for their transportation in Japan. But I suggest you use their regular card such as SUICA and PASMO which can be charged any time and can be used for any line (it’s more like card in Singapore) while JR card can only be used in JR line, that way is more flexible when you need to switch line. As one of the big city in Japan, Tokyo have signs written in English. But it’s going to be a disaster if you ask someone in English randomly. Their English skill suck. You have to depend on the people who is on duty in the information center or tourist information. And try to speak English as short as possible. I remembered when I wanted to buy Onigiri in some mini mart but they didn’t write in English and there was no picture so I had no idea what those Onigiris contained. Luckily I had my brother translated it for me. I suggest that you install Google translate in your phone. You can take a picture of those japanese writings and have it translated for you. 



Tokyo – Destination 
These were places that I visited during my trip in Japan 

Ueno Park : Ueno park seems to be a very popular destination. During Sakura period, this place is very crowded with people sitting, eating and drinking in the park. They have museum and several temple in here, I didn’t spend much time in here because we didn’t like museum an temple very much. Especially since you need to pay to enter the museum. 

Asakusa : If you ever go to chinatown in Singapore, Asakusa is just like that with twice the size. The sell many merchandise including Kimono in here and several street food. They have the Kaminarimon gate (thunder gate) which is an entrance gate through Sensoji temple guarded by Fujin (Wind God) and Raijin (Thunder God). After you enter the gate, then you will see the market itself and the Sensoji temple straight ahead. Once again, we’re not that into temple so we didin’t explore it too much. 

Shibuya : I guess there is not much to be said for this district. Shibuya is the famous district which have many department store. There is Shibuya 109 which is the largest department store in Shibuya, a Hachiko statue - the famous loyal dog, and the famous five-cross-street-intersection. This place is very very crowded. You can find Don Quijote in here (which is also available in Shinjuku) which is more like Mustafa in Singapore and the perfect place if you want to buy a gift. 

Shinjuku : To tell you the truth, I have no idea what is the difference between Shibuya and Shinjuku. Both of them is the same shopping district, and have the same outlet. If Shibuya has Shibuya 109 then Shinjuku have iSetan and Takashimaya. Shinjuku has Omoide Yokocho which is more like an alley and have tiny eateries serving such as Yakitori, Ramen, Soba. 

Tokyo Tower : Although Tokyo Skytree is the tallest building in Japan, we interested more in Tokyo Tower because it modeled the Eifel Tower. Tokyo Tower looked very beautiful at night and you can go to the top by paying 1600 Yen. From the top you can enjoy Tokyo night scenery. 

Tsukiji Market : For a guy who likes to cook like me, this place is like heaven. They sell a lot of fresh ingredients and a very good quality meat with a very good price. Even I wondered whether I could buy them here, freezed it and brought back to Indonesia with me. I didn’t enter the market because I know that the market is dedicated more for business rather than tourist, so I didin’t want to get in their way. We just visited the outer market and try to find a place where we can eat Sushi. Sushi Dai is the famous place to eat Sushi but they also famous for its long queue. I have read that you have wait for three hours to get to eat. When I visited the place, there was a sign that you need to wait FIVE HOURS. And not long after that, a new sign came which told that they have already sold out for the day. Several tourist who just came scream dissapointedly. Well it’s your fault for coming so late. We decided to visit Sushi Mizan who also has a queue but not that long. We just have to wait for about half hour to enter the place. You can visit another sushi stall to enjoy the freshness of their food. 

Akihabara : This is the headquarters for Anime,Manga, and Game lover. The place is so huge that maybe you need a day to visit all of them. They also sell a lot of electronic stuff in here, whether its brand new or used. Japan has a regulation where you cannot throw away stuff, otherwise you would get penalized. So they take care of almost all of their stuff including electronic stuff so they can sell it with a good price. So it’s safe to buy used stuff in Japan because the quality is almost the same as brand new with a better price. You can find Yodobashi in here which is the largest electronic store in Japan and sell a lot from computer, rice cooker, software, games, even Japan Adult Video (JAV). 

Garden/Park : Going to Japan was not enough if you didn't visit their beautiful parks especially during Sakura period. I visited two parks during my trip in here. They were Koshikawa Karakuen and Shinjuku Gyoen. I think Shinjuku Gyoen is the best place to see Sakura. The park is bigger than Koshikawa and cheaper to enter. Just enjoy the beautiful scenery and the fresh air in here. 

Daisho : I visited Daisho in Harajuku. My brother said that this is the biggest Daisho store that he ever enter. The store consist of four floors with 100 Yen for the price exclude 8% tax. Although there are some stuff that cost more than that. They sell a lot of unique stuff in there. 



Hakone 
Hakone is famous for its hot springs (onsen) and the best spot beside Kawaguchi to see mount Fuji.It took one and half hour from Shinjuku to reach Hakone by Rapid Express train. You can enjoy onsen for free if you stay a night in their many Ryokan. Otherwise, you may have to pay. And remember to enter onsen, you need to completly naked, not even a towel is permitted to enter the onsen. My brother said that you can wear swim clothes for tourist, but I never try it though because we didin’t spend the night in there. We only got a chance to visit lake Ashi, but sadly it was cloudy that day so we didn’t get to see mount Fuji. But Hakone has a very beautiful view and a relaxing air, a great place to escape from a busy city like Tokyo. Hakone can be reached by train or shinkansen from Shinjuku station. Just like I mention before, they have different type of trains. To Hakone you can board from Local, Semi Express, Tama Express, Express, Rapid Express, Super Express, Romance Car. The ticket cost 880 Yen and can only be used up to Rapid Express. The Rapid Express train cut a lot of stop while Local type stop at every station. Suica and Pasmo card can be used in Hakone. Take Odakyu line to Odawara from Shinjuku. 


Tokyo Food Guide 
I was totally amazed by the systems of restaurant in Japan. They have this box which looked like a vending machine. The machine have several buttons which are actually the restaurant’s menu. So you see what you want to eat, and how much it cost. You put through the money and press the button. The machine will give you ticket of your order and your change. Then you give the ticket to the counter table or in some restaurant you wait until your number is called. This way minimized cost because they don’t need to have a cashier, and a probability that some employee try to steal from your daily income. 
I think Japan culinary don't have many varieties as much as Korean do. Beside noodle, they don’t have any dish which contains broth/soup in it. So it’s quite hard when you want some warm food during cold season. But their patisserie is very well known all over the world and sometime can be put up against the famous French pastry. I try to list several restaurant and dishes based on my trip. 

Ichiran Ramen : Just try google it, and I bet you find a lot of good review for this place. Some people say that this is the best ramen in the world. And I have to agree with you because I came back for the second time during my period of visit. There is something in their broth that make it different than any other ramen. And usually you need to wait in line for around one hour to eat in this place because it is that famous And I have to tell you that it is worth the wait. They’re going to give you a list of choice of how your ramen want to be served, is it firm or soft? how many garlic you want? whether you want to use green onion or not, how spicy do you want it? There are also some additional side dish such as extra pork, extra green onion, egg, or maybe you want a refill of the noodle. One portion of noodle cost around 790 Yen and a refill of another one portion of noodle cost just 190 Yen. They didn’t add the broth, so you need to use the broth from your previous order. 

Platinum Buffet : For just around 1600 Yen, you can get all you can eat buffet in Shinjuku station. We accidentally find this place when we try to look for dinner. I have to say it was quite a pleasure eating here. They served more like a western food such as Pizza, Spaghetti and Hamburger steak as their main. But they also serve some Japanese food such as curry, croquetes, chicken. There are also salads, about twelve different type of cake, crepe, waffle and Ice cream. The food was quite delicious and the price was cheaper than any other buffet restaurant such as Sweet Paradise or Bittersweets Buffet. 

Sushi Mizan : We stumble upon Tsukiji market and dying to try a good sushi without having to wait too long with a comfortable place and don’t care about the queue when we eat. And we find Sushi Mizan nearby. The queue line was more make sense than the Sushi Dai, we just have to wait for about 30 minutes before our name got called. Tuna is the best fish served in there, not the kind of tuna that we usually find in our supermarket but ‘their’ kind of giant tuna. It was more expensive than salmon. The fish was very fresh, totally different than Sushi Tei which I think the best Sushi place you can find in Indonesia. The rice was also flavourful. It was very delicious and my wife who didn’t like to eat raw food even ask for a second time. I get that some people wondering why Sushi was so expensive despite there was no cooking involved. Let me tell you something, making sushi needs a certain kind of skill. They need to be able to cut the fish consistently in a right angle. You can’t cut the fish too thin or too thick because it will messed up your experience eating it. They need to be in right size for every pieces. And then you still need to cook the rice and season it correctly. After that there are seven steps you need to do to assemble the sushi and make it look exactly the same for every pieces. So it is hard. 

Pablo Cheese Tart : I remembered watching some video going around in my facebook page that Japan has something that can stand against cheesecake. And that is Cheese Tart. Pablo create a gooey cheese tart. Sort of like Molten Lava Cake which is still runny inside. So it’s not actually solid like a cake but it’s more like a filling. It was delicious. And they also open mini cheese tart in Akihabara. And that is way more delicious than the original one because they have more type of flavor such as chocolate or green tea and you can eat it while it’s still warm. The pie tart itself was very crunchy and very solid so it didn’t fall apart when you bite it. 

Dominique Ansel Bakery : Dominique Ansel is the pastry chef who many people said have invented Cronut. A fusion between Croissant and Donut. Although the chef itself politely denied it by saying that he just reinvented and popularize it but the hype was already in. I imagine entering a bread shop where you can browse all the bread, pick it up and pay it in the cashier. But that’s when I got it wrong. They served it more like a fast food restaurant where you got to be in the queueing line (again!!) and while waiting you got to see what type of bread you wanted to order. And by the time you reached the cashier, you could place your order. And here is the trick, this bakery shop have several recommended menu. If you went too late, you might miss their Cronut because it has already sold out. But you can get a chance to try their Cookie Shot which usually sold at 3 PM. Several people have already got in the different line to queue around 30 minutes before the time has opened. But if you came early, you might didn’t have a chance to try their Cookie Shot. So it’s your decision whether you want to went early or late. But definetly you might want to try their frozen S’mores which cost 750 Yen. And I had to say that it was worth it.

Onigiri : A simple onigiri can be found around every mini market in Japan. They all taste very good. They have many variety of filling from tuna, salmon, chicken even plum. My favourite was the one from Family Mart which had a brown rice. I think they added soy sauce to the rice to give it more flavour.

I was very excited going to a country which I had been dreaming about since I was in high school. But I got more excited because I got to see my brother again and saw how he lived his life over there. And I am very proud of him for working hard to realize his dream. 
Japan is a nice country which have many beautiful place in every each of their region. I’m pretty sure that I will go back again to visit all of them. 


Tuesday, March 29, 2016



When you visit Japan, Kyoto is one of the most beautiful city that you need to visit. Kyoto is divided into five parts, which are South, West, North, East and Central. But for me, I prefer to left out Central Kyoto and concentrated on the other four parts. Each of its parts has at least one must-visit-place because of its beauty. Because I never found someone who has tried to visit all of those places in one day, so I try to do it. I will try to explain in here based on my personal experience. First thing first. Is it possible? The answer is ‘yes, it is possible’. But is it recommended? The answer is ‘no, I don’t think so’. The distance it took from one place to another is quite long and so tiresome when you have to keep changing trains, and by the time you reached the final place, your leg probably has given up. But despite all that, I try to push myself and managed to complete it. 

The route that you’re going to take is like this 
North – West – South – East 
Kinkakuji – Arashiyama – Fushimi Inari – Kiyomizudera. 

1. You might want to check Kiyomizudera Website to know whether they are available to be visited at night. 
2. You might want to stay as close as you can to Kinkakuji. I stay at Kaede Guesthouse which took me some time to arrived there. To reached Kinkakuji, you have to take a bus from Kitaoji Bus Terminal which located in Kitaoji station (search Kyoto subway map) 
3. Spare about one hour, and because it’s going to be very crowded, you might want to go as early as possible 
4. To reach Arashiyama, you have to go back to Kitaoji station using the same bus from earlier, and go to Uzumasa-Tenjingawa station. After that you have to come out from the station to walk to Randen-Tenjingawa Station which is located in the surface (not underground) and head to Arashiyama station. 
5. You can spend one and a half hour in here, there are many shops which might make you stop for a while. And you can go to Arashiyama Bamboo forest. Follow the path. 
6. You might want to head to Saga Arashiyama Station to reach your next destination. You can go to the station by bus or on foot. If you decided to take a bus, you still need to walk about 17 minutes to the station, and if you decided to walk, it’s going to take 22 minutes. Since the difference is only 5 minutes between going by bus and on foot, so we decided to go to the station on foot while try to enjoy the city. 
7. Head to Inari Station. You might have to switch train in Kyoto Station. 
8. Fushimi Inari is more like a mountain, there are several gates through the top. I personally didn’t go to the top and quite satisfied with just only several of them. 
9. Walk to Fushimi-inari Station (Fushimi-Inari Station is different than Inari station which you arrived before) and head to Kiyomizu-gojo. 
10. By this time you might recognize that it’s already dark, and if you go when they have special night opening hours, you can visit it, because Kiyomizudera closed at 5.00 PM, and guest needs to buy another ticket to access it at night. 
11. From Kiyomizu-gojo, you might need to walk about 12 minutes to arrive at Kiyomizudera. It’s going to be quite tiresome because the track is uphill. 
Optional 
12. After spending some time in there, you can choose to go back to Tokyo immediately. There are some overnight bus such as Willer Express which depart from Kyoto Station at night. Therefore you have just save some time and money. I did that, and you just have to push yourself to sleep and get as much rest as you can on the bus because you need to explore Tokyo on the next day. 

And just to remember that this was what I've done when I went to visit Kyoto. You can modify it as much as you can.

Tuesday, January 12, 2016



Sama seperti industri film, industri anime dan manga pun mulai mengalami perubahan dalam sisi cerita. Tidak ada lagi dunia hitam dan putih, kebaikan vs kejahatan. Yang ada sekarang adalah pertarungan ideologi, filosofi dan karakter yang disebabkan oleh masa lalu masing-masing. Aku sudah jatuh cinta pada manga/komik sejak aku SD, dan tambah jatuh cinta lagi ketika aku SMP. Aku ingat setiap minggu aku bisa membeli lima buah komik yang membuat kedua orang tuaku marah-marah karena merasa komik tidak ada gunanya dan hanya menghabiskan uang saja. Tapi apakah benar bahwa komik dan anime yang masih dipandang sebagai film kartun yang dianggap tontonan anak kecil itu tidak berguna? 

Komik pertama yang aku baca saat itu adalah Dragon Ball. Bagi anak lelaki sepertiku, tokoh dalam Dragon Ball adalah idolaku yang memiliki kekuatan super dan pertarungan-pertarungan sengit di dalamnya. Dragon Ball jugalah yang melatih kemampuan menggambarku karena aku menghabiskan banyak waktu mencoba menggambar tokoh-tokoh keren dalam komik itu. Dragon Ball mengajarkan bahwa kau harus berlatih untuk bisa menjadi lebih kuat. Meskipun kau tidak memiliki bakat sama sekali namun hal tersebut bisa ditutupi oleh latihan yang keras. Lalu ada komik Detektif Conan, sebuah komik detektif yang sangat populer saat itu yang mengandalkan kecerdasan otak. Conan lah yang mempertemukan aku dengan Sherlock Holmes. Aku masih ingat bagaimana sulitnya mencari novel Holmes saat itu. Namun sekarang novel Sherlock Holmes memiliki rak sendiri di hampir setiap toko buku Gramedia. Komik ini mengajarkan sangat banyak mulai dari persahabatan, kejelian, kecerdasan dsb. Aku bahkan sering menganggap diriku sebagai detektif dan Matematika sebagai sebuah kasus yang harus aku pecahkan. Kemudian aku dipertemukan dengan komik Harlem Beat, yang mempertemukanku dengan dunia basket. Meskipun Slam Dunk adalah komik bertemakan basket terbaik yang pernah ada, namun pada saat itu Slam Dunk belum diterbitkan di Indonesia. Melalui komik itu aku mulai berlatih basket, mencintainya dan terpilih sebagai tim inti regu basket sekolah, dalam beberapa kesempatan bahkan aku beberapa kali dianggap sebagai kapten tim. Perasaan terbaik dalam hidupku pada saat itu ketika aku tahu rekan setimku mempercayaiku dan berharap kepadaku dan pertama kalinya dalam hidupku aku mempunyai kepercayaan diri yang tinggi melakukan apa yang aku yakin bisa aku lakukan. 

Seiring perkembangan zaman, aku makin mencintai anime dan manga. Aku mulai belajar bahasa Jepang sendiri, dan menghabiskan waktu berjam-jam menonton dan membaca komik. Sebuah hobi yang aku yakin aku tularkan kepada adikku sendiri dan lihat kemana hal tersebut membawanya. Ia sekarang sedang melanjutkan studi di Jepang, ia sudah cukup lancar berbahasa Jepang, pasif maupun aktif sebelum berangkat ke Jepang tanpa les sekalipun. Semua hal tersebut didapatkan hanya berdasarkan kecintaannya kepada anime dan manga yang mungkin bisa mengkategorikannya sebagai Otaku. 

Aku sempat sedikit vakum membaca komik dan menonton anime ketika memasuki kuliah. Hal itu dikarenakan aku mulai lebih banyak menonton film-film bioskop dan film-film serial barat yang menurutku lebih bisa menggambarkan kehidupan sehari-hari. Meskipun memang aku masih menonton beberapa anime rekomendasi adikku. Sampai beberapa hari yang lalu aku menonton lagi anime Bakuman. Sebuah anime yang menceritakan perjalanan seorang mangaka mulai dari proses pembuatan komik sampai komik tersebut berhasil diterbitkan. Apabila memang dinilai layak untuk diterbitkan. Anime tersebut me-refresh lagi diriku. Membuatku teringat bagaimana memiliki mimpi dan bekerja keras mewujudkannya. Dan sedikit membuatku iri bagaimana seorang anak SMA sudah memiliki cita-cita tinggi menjadi mangaka dan bekerja keras mewujudkannya. Sebagian dalam diriku merasakan sedikit penyesalan. Penyesalan mengenai mengapa aku tidak bisa mengetahui apa yang aku impikan lebih awal, dan mengapa aku tidak berusaha mewujudkannya. Dan jawabannya sangat mudah. Aku tidak mendapatkan dukungan dan informasi yang cukup. Ketika aku masih bersekolah, daerah tempat tinggalku tidak memiliki akses informasi seluas sekarang, aku juga tidak mendapatkan pengarahan yang cukup. 

Aku rasa ini pelajaran berharga bagi setiap orang tua. Kau tidak bisa mengharapkan anakmu memiliki impian dan bekerja keras mewujudkannya apabila kau tidak memiliki mimpimu sendiri dan mengejarnya. Bagaimana kau akan mengajarkan anakmu menciptakan mimpinya apabila kau tidak tahu cara menciptakan mimpimu sendiri. Aku belum punya anak dan aku tidak tahu bagaimana cara membesarkan anak. Namun hal yang aku tahu adalah ketika anakmu lahir, terkadang orang tua akan bermimpi anakmu menjadi orang yang sukses. Aku tidak tahu definisi sukses bagi orang tua itu apa namun pada umumnya adalah sekolah yang pintar, dan bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi diri sendiri. Tidak ada yang salah dalam hal tersebut, hanya saja apabila aku mempunyai anak, aku juga akan mengajarkan kepadanya bagaimana cara agar sang anak menciptakan impiannya, dan mendukungnya dalam mewujudkannya. Satu hal yang tidak aku dapatkan dalam hidupku dan harus melalui perjuanganku sendiri. Oleh karena itu aku sangat suka dengan cara Deddy Corbuzier membesarkan anaknya. Mungkin bagi para orang tua di sana, saat ini anime dan manga adalah salah satu media yang paling mudah bagi mereka untuk bisa masuk ke dalam dunia anak mereka untuk membimbingnya, menunjukan pesan-pesan yang disampaikan dari anime dan manga tersebut dan mengajarkan moral serta kebiasaan melalui dunia sang anak itu sendiri. Sebuah pesan yang aku yakin akan lebih mudah ditangkap oleh sang anak.